Blog Single

12 Sep

Tembus Daerah Rawan, BSMI Salurkan Bantuan Bagi Etnis Rohingya

BSMI Jakarta,

Yangon – Penyaluran bantuan kemanusian dari bsmi ke warga Rohingya di pengungsian Rakhine masih menemui kendala di lapangan. Lembaga Kemanusiaan Nasional Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang saat ini telah menempatkan relawannya di Yangon, Myanmar, untuk mendistribusikan bantuan dari tanah, selasa 12/9/2017

Relawan BSMI bersama KBRI di Yangon, yakni Pak Budi (Minister Counsellor)

Relawan BSMI bersama KBRI di Yangon, yakni Pak Budi (Minister Counsellor)

Tidak mudah untuk mampu masuk dan menembus daerah Rakhine, untuk penyaluran bantuan di perbatasan Bangladesh relatif masih aman, kita memang dari Indonesia niatnya ingin membantu para pengungsi yang berada di Rakhine, alhamdulillah bantuan bisa sampai dan tersalurkan meskipun banyak sekali hambatan, karena tidak semua NGO mampu masuk ke daerah Rakhine, begitu tutur Muhammad Rudi selaku Sekretaris Jenderal BSMI yang berada di lokasi.

Relawan BSMI yang telah berangkat ke Myanmar adalah Muhammlad Rudi sebagai ketua rombongan relawan dan Muhamad Widjanarko sebagai relawan logistik dan umum.

Saat ini, upaya relawan untuk menembus kamp pengungsian Rohingya di Rakhine masih belum di rekomendasikan oleh pihak berwenang dengan alasan keamanan. Sehingga bantuan-bantuan yang sudah dibawa dari Indonesia mesti difasilitasi oleh pihak ketiga, yakni NGO lokal yang telah terpercaya menyalurkan bantuan ke Rakhine.

Menurut ketua rombongan relawan Muhamad Rudi, bantuan yang dibawa dari Indonesia untuk warga Rohingya di Rakhine harus bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan non profit setempat. Apabila bantuan yang dibawa berupa dana tunai, maka NGO tersebut yang akan membelanjakan kebutuhan pokok dasar untuk para pengungsi.

“Kami diberitahukan oleh KBRI di Yangon, yakni Pak Budi (Minister Counsellor) dan Ibu Yasfika (Socio Culture Affair) saat kunjungan koordinasi, bahwa KBRI tidak menyarankan BSMI ke pengungsian di Rakhine karena kondisi keamanan yang belum kondusif dan masih bergejolak. Pihak KBRI juga tidak akan bertanggung jawab jika relawan nekat ke Rakhine dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Info terkini, pemerintah Myanmar menutup akses bantuan baik dari NGO maupun WWF-UN ” kata Rudi usai bertemu dengan KBRI di Yangoon, Minggu (12/9) .

Relawan BSMI bersama KBRI di Yangon Ibu Yasfika (Socio Culture Affair)

Oleh karena itu, KBRI merekomendasikan agar penyaluran bantuan ke pengungsi Rohingya di Rakhine secepatnya segera dilaksanakan dengan bekerjasama dengan NGO lokal yakni Myanmar Resource Foundation (MRF). Mereka akan bertanggung jawab segala hal untuk persiapan ke pengungsi. Sehingga keamanan relawan terjamin serta distribusi bantuan kemanusiaan juga disalurkan kepada yang berhak. Saat ini untuk tahap awal sedang dalam proses penyaluran makanan senilai USD 6.000 dan serta bantuan lainya.

Untuk penyaluran bantuan kemanusian selanjutnya, BSMI akan kembali mengirimkan relawan dan bantuan kemanusiaan yang lebih besar ke pengungsian Rohingya dekat perbatasan Bangladesh. Relawan yang akan dikirimkan akan lebih banyak dari profesi medis seperti dokter spesialis dan umum, paramedis, ahli gizi, apoteker.

Hal ini disebabkan karena selain kebutuhan pokok, para pengungsi juga membutuhkan pelayanan medis karena buruknya kondisi kesehatan pengungsi. Rencananya, tim relawan selanjutnya akan langsung terbang ke Bangladesh, agar lebih menjangkau distribusi bantuan.

#SolusiKemanusiaan

Related Posts

Leave A Comment