Blog Single

31 Aug

Saat Bencana, Seberapa Penting Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak?

BSMI Jakarta, Condet – Sebelum anda menjawab dalam beberapa kategori jawaban: penting, sangat penting, atau penting sekali, ada baiknya kita kenali dulu apa yang dimaksud dengan pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA).

 

Berbicara tentang pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) tidak terlepas dari Strategi Nasional Peningkatan Pemberian ASI dan MP-ASI yang merekomendasikan pemberian makanan yang baik dan tepat bagi bayi dan anak 0-24 bulan. Rincian strategi tersebut adalah:

 

Inisiasi menyusu dini (IMD) segera setelah lahir minimal selama 1 jam;

Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan;

Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan; dan

Meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih.

 

Sumber: wahanavisi.org

Sumber: wahanavisi.org

World Health Organization (WHO) dalam Resolusi World Health Assembly (WHA) nomor 55.25 tahun 2002 tentang Global Strategy of Infant and Young Child Feeding melaporkan bahwa 60% kematian balita langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kurang gizi dan 2/3 dari kematian tersebut terkait dengan praktik pemberian makan yang kurang tepat pada bayi dan anak.

Ambil contoh awal misalnya, tentang IMD atau pemberian ASI eksklusif, masih banyak yang belum paham bahwa kebutuhan gizi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sampai dengan usia 6 bulan cukup dipenuhi hanya dari ASI saja karena ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan awal kehidupan.

 

Oleh karena itu, menyusui secara eksklusif selama 6 bulan merupakan salah satu upaya pemerintah dalam rangka penurunan angka kematian bayi di Indonesia.

 

Namun, data riset tentang cakupan pemberian ASI eksklusif belumlah menggembirakan. Data capaiannya masih fluktuatif. Berdasarkan pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2009-2011, cakupan pemberian ASI eksklusif pada seluruh bayi dibawah 6 bulan (0–6 bulan) meningkat dari 61.3% pada tahun 2009 menjadi 61.5% pada tahun 2010 tetapi sedikit menurun menjadi 61.1% tahun 2011.

 

Pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan berdasarkan hasil Susenas tahun 2012 sebesar 63.4%, sedangkan cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai 6 bulan sebesar 34.3% pada tahun 2009 menurun menjadi 33.6% pada tahun 2010 dan sedikit meningkat menjadi 38.5% pada tahun 2011 dan menurun lagi menjadi 37.9% di tahun 2012.

 

Kecenderungan yang sama juga ditunjukkan hasil Survei Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dan 2012, pada bayi kurang dari 6 bulan praktik pemberian ASI sebanyak 32 % dan susu botol 28% (2007) lalu pada tahun 2012 pemberian ASI sebesar 42% dan susu botol menjadi 29%, yang mengindikasikan meningkatnya peran pemberian makanan selain ASI yang menghambat perkembangan pemberian ASI Eksklusif.

 

Menurut WHO tahun 2009, cakupan ASI Eksklusif 6 bulan sebesar 32%. Hasil Riskesdas tahun 2010 cakupan pemberian ASI Eksklusif untuk bayi laki-laki sebesar 29% dan pada bayi perempuan sebesar 25.4%. Jadi, untuk strategi awal saja hasilnya belum menggembirakan.

 

Sumber: wahanavisi.org

Sumber: wahanavisi.org

Pemberian makan yang terlalu dini dan tidak tepat mengakibatkan banyak anak yang menderita kurang gizi. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan sejak lahir secara rutin dan berkesinambungan. Fenomena “gagal tumbuh” atau growth faltering pada anak Indonesia mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi diberi makanan selain ASI dan terus memburuk hingga usia 18-24 bulan.

Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 19.6% balita di Indonesia yang menderita gizi kurang (BB/U <-2 Z-Score) dan 37.2% termasuk kategori pendek (TB/U <- 2 Z-Score). Salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan mempromosikan pemberian MP-ASI yang tepat jumlah, tepat kualitas dan tepat waktu.

 

MP-ASI mulai diberikan sejak bayi berumur 6 bulan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak selain dari ASI. MP-ASI yang diberikan dapat berupa makanan berbasis pangan lokal. Pemberian MP-ASI berbasis pangan lokal dimaksudkan agar keluarga dapat menyiapkan MP-ASI yang sehat dan bergizi seimbang bagi bayi dan anak 6-24 bulan di rumah tangga sekaligus sebagai media penyuluhan.

 

Indonesia adalah negara dengan potensi bencana yang cukup sering. Tingkatan bencana yang dialami oleh bangsa ini juga sangat variatif. Dari skala kecil hingga skala besar. Baru-baru ini kita tahu bencana apa yang sedang melanda negeri ini. Gempa di Lombok NTB dan kelaparan yang melanda suku terasing di Maluku Tengah. Mundur sedikit ke belakang, kita masih tidak lupa dengan bencana KLB (kejadian luar biasa) gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat Papua.

 

Mengapa pemberian makan pada bayi dan anak saat bencana itu penting? Bayi dan anak adalah golongan kelompok umur yang paling rentan terdampak saat bencana. Dalam kondisi bencana, angka kematian bayi dan anak dapat meningkat 2 hingga 70 kali lipat dari biasanya (WVI IYCF-E Presentation, 2015).

 

Lalu, apa yang harus diperhatikan untuk pemberian makanan pada bayi dan anak di saat bencana? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Pemberian makanan yang sesuai untuk bayi dan anak.

saat bencana yang biasanya cepat tersedia adalah dapur umum. Sayangnya dapur umum lebih banyak menyediakan makanan untuk orang dewasa. Anak-anak usia 6 hingga 24 bulan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda baik untuk kecukupan nutrisi dan konsistensi makanannya.

 

Saat ini beberapa organisasi nirlaba rutin memperkenalkan tentang “Dapur PMBA”, yaitu dapur umum yang juga menyediakan makanan khusus bagi bayi dan anak usia 6 hingga 24 bulan.

 

Promosi dan perlindungan untuk pemberian ASI.

Saat bencana ada anggapan kalau ibu yang biasanya memberikan ASI menjadi sulit memberikan ASI akibat stress yang ditimbulkan oleh bencana. Nyatanya tidak semua ibu mengalami itu dan faktor stress hanya sedikit pengaruhnya terhadap proses produksi ASI. Yang paling besar pengaruhnya adalah hisapan si bayi. Artinya, semakin sering bayi disusui, semakin banyak juga produksi ASI ibu.

 

Dalam bencana, berbagai bantuan susu juga sering diberikan. Pihak-pihak yang mengkordinasikan bantuan saat bencana harus ekstra hati-hati dalam mendistribusikan bantuan susu agar tak menyalahi aturan tentang distribusi susu formula.

 

Beberapa rujukan paying hukum seperti PP 33/2012 tentang pemberian ASI eksklusif dan Permenkes 39/2013 tentang susu formula ada baiknya diketahui oleh kordinator distribusi bantuan saat bencana.

Proteksi anak yang tidak menyusui dari pemberian makanan buatan.

Hal ini penting berhubung saat bencana sangat banyak bantuan serba instan yang masuk. Tanpa perlu berdebat panjang soal kandungan nutrisi dalam makanan instan serta baik atau buruknya, anak yang tidak menyusui (usia di atas 2 tahun, balita, anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, dan kategori lainnya) lebih baik tetap menerima asupan makanan yang diolah secara lokal dengan bahan makanan yang ada di wilayah setempat dengan memperhatikan kecukupan zat gizinya.

 

Untuk kecukupan zat gizi ini, penting sekali bagi relawan atau kordinator pemberian makanan di posko bencana menguasai tentang “Makanan 4 bintang” atau “Isi Piringku” yang rutin disosialisasikan oleh Kementerian Kesehatan.

 

Kesehatan ibu (fisik, mental, dan kebutuhan nutrisi)

Saat bencana peran ibu sangat penting. Secara mental, ibu lebih dekat ke anak. Secara fisik, ibu lebih sering diandalkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehari-hari.

 

Kadangkala kesehatan ibu (fisik dan mental) serta kebutuhan nutrisinya sering diabaikan dan disamakan dengan kebutuhan orang dewasa lainnya. Pengelola distribusi makanan saat bencana harus bisa membedakan kebutuhan nutrisi ibu yang sedang menyusui, ibu hamil, ibu dengan balita, dengan orang dewasa lainnya untuk menjamin kecukupan nutrisi mereka.

 

Jadi, seberapa penting pemberian makan pada bayi dan anak saat bencana?

Related Posts

Leave A Comment