Blog Single

13 Sep

Relawan Gempa Lombok, Jalan Cinta Sesama Menuju Lillah

BSMI Jakarta, Lombok – – Gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8) pukul 18.46 Wita menelan ratusan korban jiwa dan kerusakan bangunan.

 

Gempa ini juga sempat menyebabkan gelombang tsunami kecil setinggi 10 hingga 13 sentimeter di wilayah Lombok. Selain itu, gempa yang berada di kedalaman 15 km ini juga dirasakan hingga Bali dan Jawa Timur.

 

BMKG menyebutkan gempa bumi 7,0 SR episenter di darat pada 18 km barat laut Lombok Timur, kedalaman 15 km pada 5 Agustus 2018 pukul 18.46 Wita, merupakan mainshock atau gempa utama.

 

Sementara gempa pada 29 Juli 2018 dan sederet gempa susulan lalu, merupakan foreshockatau gempa awalan. Tercatat ada sektir 400 kali gempa susulan yang mengguncang Lombok.

Relawan muda, Waode Sri Irnawati bertolak bersama tim  Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dari Makassar menuju ke Lombok pada 30 Agustus 2018.

 

“Inilah pengalaman pertama menjadi relawan untuk bisa turun langsung membantu korban gempa di Lombok, sebenarnya sudah lama saya menjadi relawan, saat gempa di Nepal sempat diminta kesana untuk menjadi relawan , hanya belum mendapat restu dari orang tua. Selama itu saya hanya bisa aktif di kegiatan penggalangan bantuan saja, barulah di gempa Lombok saya bisa turun langsung.” cerita Irna sapaan akrabnya saat reporter Jurnal Muna mewawancarainya melalui pesan Whatshaap.

 

Wanita yang menelesaikan studinya di Universitas Muslim Indonesia ini menuturkan bahwa kepedulian itu ada sejak ia menyaksikan berita di TV. Saat relawan BSMI  dikirim ke Palestina untuk membantu korban kekejaman tentara Zionis Israel terhadap warga Negara Palestina. Saat itu ia masih duduk dikelas 2 SMA sehingga menggerakan hatinya untuk menunaikan misi-misi kemanusiaan. Tepatnya di tahun 2013 saat kuliah, ia memiliki azzam yang kuat untuk masuk dalam barisan relawan BSMI dan ditahun itu pula ia resmi didaulat menjadi salah satu relawan.

“Ditanggal 30 Agustus kemarin saya berangkat, BSMI mengutus saya untuk terbang ke Lombok, suasana Bandara tak seperti atmosfer bandara pada umumnya, meski daerah ini (Lombok Tengah) tak separah Lombok utara, tapi ada ketakutan warga untuk berbaring di dalam rumah , saya dirikan tenda tenda diluar sini, takut akan gempa susulan terjadi lagi, begitulah yang terlihat jelas dari raut wajah masyarakat disekitar bandara. Satu jam perjalanan menuju Kota Mataram, tak ada carut marut ditempat ini, manusia lalu lalang, reruntuhan bangunan hampir tak ada, kotanya berjalan stabil.” tuturnya.

 

Menurut Irna, wilayah Lombok tak semuanya terdampak gempa, di Desa Pemenang Barat , Kec. Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, lokasi yang menjadi tempat relawan Bulan Sabit Merah bertugas, Tak ada bangunan menjulang tinggi, tak ada anak-anak yang berangkat kesekolah, yang telihat hanyalah puing puing bangunan akan gempa yang melanda daerah ini, 99.9% bangunan ratah dengan tanah, semua warga mengungsi ketempat yang lebih aman, sungguh ini semua di luar nalar , di luar nalar seorang perempuan sepertinya. Berita ditivi-tivi itu hanya sebagian kabar dari kondisi yang ada disana.

 

Tim relawan BSMI merancang program discover the new Lombok, mobile hospital dan pembuatan film dokumenter. Selain itu, mereka terjun langsung untuk melakukan manajemen posko, membantu merapikan pengelolaan rumah sakit dan posko induk. Dalam waktu 2 hari pekerjaan ini bisa terselesaikan.

 

“Kubawa 2 anak pengungsi melalui medan yang berat ke kaki Gunung Rinjani, untuk proses shooting discover the new Lombok, kita mengejar tayang dalam waktu dua hari. Cuaca terik yang menyengat kulit benar benar sangat menyiksa saat dilombok. Demi kemanusiaan, demi tempat yang dijanjikan, dan demi tempat yang dirindukan, yaitu tempat untuk beristirahat selamanya yaitu syurga Allah SWT. Dokter Irwan yang seharusnya menjadi ketua tim program media malah harus menjadi direktur rumah sakit lapangan BSMI.”

 

Untuk menguatkan jiwanya, saat berada disana, Irna Selalu memegang prinsip “kerja relawan adalah kerja pahlawan kesunyian“. Kata itu ia dapatkan dari relawan lain, yang tak lain merupakan seniornya di BSMI.

 

“Maklum sejak saya datang sampai sekarang , Lombok masih diguncang gempa diatas 5,0 SR. perkantoran, sekolah, dan sarana lainnya semuanya darurat, hanya mmenggunakan tenda. Berhubung saya berangkat dimasa peralihan tanggap darurat ke recovery, kondisi korban tidak separah tanggap darurat, bahkan di wilayah terdampak gempa, pasar sudah mulai buka, masyarakat sudah mulai bangkit dan berdagang. Sekarang sedang dalam masa pembuatan shelter atau huntara ( hunian sementara ) yang ditujukan untuk Ibu hamil, Lansia dan balita. Not Gorverment Organitation (NGO) disana seperti BSMI ikut membantu mendirikan Huntara di desa Pemenang Barat.”

 

Sejauh ini, menurut pengamatan wanita yang menamatkan diri di SMA Negeri 1 Raha pada tahun 2011 silam ini, banyak yang berpartisipasi mengirimkan bantuan donasi uang maupun logistik untuk mendukung program NGO, laporan terakhir ditargetkan 7000 unit huntara dan 500 unit rumah siap dibangun.

 

“Motifasiku menjadi relawan bagiku jalan cinta menuju lillah, jalan cintaku untuk sesama. Relawan itu kerja keras untuk kemanusiaan, hanya akan berhenti ketika Allah yang meminta istirahat dan menyiapkan tempat istirahat di Syurga kelak.” harap perempuan kelahiran 25 Juli 1993 ini.

 

Sumber : jurnal muna

Related Posts

Leave A Comment